TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Kamis, 09 Desember 2010

PSIKOLOGI KELUARGA MEMBANGUN KOMITMEN {Bagaimana mempertahankan perkawinan}

BAB I
PENDAHULUAN

Pernikahan merupakan salah satu tugas & kewajiban orang dewasa dan tentunya ini menjadi bagian dari rencana dalam kehidupan kebanyakan orang. Meskipun saat ini terjadi banyak pergeseran dalam nilai-nilai masyarakat, khususnya berkaitan dengan pernikahan - kita kenal dengan istilah kawin cerai ataupun kumpul kebo - namun kebanyakan orang yang berkeputusan untuk menikah akan tetap memandang pernikahan tersebut sebagai sesuatu yang sakral dan menginginkan pernikahan yang bahagia dan langgeng hingga seumur hidup.
Namun kehidupan dalam pernikahan tidaklah selalu seindah seperti yang diharapkan oleh pasangan yang akan menikah. Tentunya tidaklah mudah untuk menyatukan dua orang pribadi yang berbeda, berasal dari latar belakang yang berbeda, yang memiliki kebiasaan, minat, kepribadian dan nilai-nilai yang berbeda pula. Konflik menjadi suatu hal yang mudah terjadi dan jika hal tersebut tidak mampu diatasi dengan bijaksana maka konflik tersebut akan membawa pernikahan tersebut kepada perceraian.
Karenanya sangatlah penting bagi para pasangan yang akan menikah untuk mempersiapkan pernikahannya dengan baik sehingga dapat mengantisipasi badai yang akan menerpa pernikahan mereka, pada saat mengalaminya hal tersebut dapat diatasi dengan baik dan mereka dapat mengecap kebahagiaan dalam pernikahannya. Namun muncul pertanyaan di dalam benak kita semua, bagaimana kita harus membangun pernikahan tersebut?



























BAB II
PEMBAHASAN

A. Akibat Yang Terjadi Jika Suatu Pernikahan Tidak Disiapkan Dengan Baik
Akibat yang terjadi jika suatu pernikahan tidak disiapkan dengan baik maka :
1. Rentan terhadap konflik: Sebuah pernikahan yang tidak memiliki pondasi dan pilar-pilar penunjang yang kuat akan mengakibatkan perbedaan antar mereka justru menjadi sumber konflik dalam pernikahannya. Misalnya: Perbedaan temperamen dan kepribadian antar suami isteri, misalnya : suami yang bertemperamen intim dengan isteri yang bertemperamen cermat, perbedaan dalam cara mereka mengambil keputusan (suami impulsif, sedangkan isteri penuh dengan pertimbangan) akan menimbulkan konflik dan biasanya masalah-masalah kecil seperti ini dapat menjadi besar dan tidak terselesaikan dengan baik.
2. Ketidakpuasan dalam pernikahan: Bila konflik yang ada tidak terselesaikan maka masing-masing pihak merasa bahwa diri mereka dirugikan dan timbullah rasa tidak puas terhadap pasangan masing-masing. Atau karena hambatan komunikasi dan tidak adanya saling pengertian antar suami dan isteri, maka mereka merasa pasangannya tidak dapat memenuhi kebutuhannya dan merasa kecewa dengan pernikahan yang ada.
3. Perselingkuhan: Jika suami atau isteri merasakan ketidakpuasan atau kecewa dengan pernikahannya maka perselingkuhan pun tak dapat dihindarkan lagi. Masing-masing mencoba mencari orang lain yang menurut mereka dapat lebih memenuhi kebutuhannya.
4. Perceraian: Hal ini seringkali ditempuh oleh banyak pasangan yang merasa bahwa pernikahannya tidaklah sesuai dengan harapannya. Tali komitmen pun diputuskan dan kesakralan pernikahan tidak lagi dipedulikan demi terlepas dari pernikahan yang penuh masalah tersebut.
Hambatan yang sering terjadi
1. Pemahaman yang tidak tepat tentang konsep pernikahan atau pernikahan tidak dibangun di atas pondasi yang kuat. Banyak orang yang menikah dengan pemahaman yang tidak tepat tentang konsep pernikahan. Mereka berpikir bahwa dengan menikah akan ada orang yang peduli dan memperhatikan kebutuhannya, yang selalu ada saat ia membutuhkan. Pandangan yang lain berpikir bahwa dengan menikah mereka dapat memenuhi kebutuhan seks tanpa berbuat dosa. Mereka kurang mempertimbangkan mengenai masalah yang mungkin muncul dalam pernikahan sehingga ketika masalah tersebut muncul, timbullah kekecewaan baik kepada pasangan maupun pernikahan itu sendiri.
2. Kurangnya komunikasi dan saling pengertian. Hal ini dikarenakan pasangan yang tidak memahami perbedaan individual yang ada diantara mereka. Mereka mungkin menyadari bahwa mereka berbeda namun tidak tahu bagaimana cara menjembatani perbedaan yang ada dengan bijaksana sehingga konflikpun tak bisa dihindarkan lagi. Seringkali hal ini dianggap sebagai hal yang biasa oleh banyak pasangan dan dengan berharap bahwa pasangannya dapat berubah ketika mereka menikah, hubunganpun dilanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun justru kebanyakan orang mengeluhkan bahwa komunikasi dan hubungan mereka semakin memburuk dan penyesalanpun muncul dalam diri masing-masing setelah mereka menikah.


Solution Tips
1. Bangunlah pondasi yang kuat. Sama seperti membangun sebuah bangunan, untuk menghasilkan bangunan yang kuat dan kokoh tentunya harus dimulai dengan membangun pondasi yang kuat dan kokoh terlebih dahulu. Para arsitek tentunya akan merencanakan dan menghitung konstruksinya dengan baik serta mencoba mengantisipasi resiko terburuk yang akan dihadapi bangunan tersebut. Dengan demikian bangunan tersebut dapat tetap kokoh berdiri meskipun suatu waktu terjadi badai.
Banyak orang berpendapat bahwa pondasi dalam sebuah pernikahan adalah CINTA dan kebanyakan orang menikah karena mereka saling mencintai, merasa ada kecocokan dan saling membutuhkan. Namun yang menjadi pertanyaan adalah cinta seperti apakah yang akan menentukan keberhasilan sebuah pernikahan? Apakah cinta yang tulus atau karena hawa nafsu (eros)? Karena harta atau kedudukan?
Cinta yang tepat adalah yang berdasarkan prinsip "Love is Giving the Best" (cinta adalah memberi yang terbaik). Dengan memiliki pandangan demikian maka kecenderungan menuntut yang ada dalam diri kita dapat dengan lebih mudah dinetralisir. Kecenderungan alami kita yang selalu ingin bertanya "Apa yang dapat pasangan kita berikan kepada kita" berubah menjadi pemikiran "Apa yang dapat kita berikan untuk membahagiakan pasangan kita". Berikan waktu, perhatian terbaik dan kata-kata yang menguatkan maka cinta yang kita berikan akan tumbuh subur dan ini menjadi dasar atau pondasi pernikahan yang kokoh karena barangsiapa yang memberi akan mendapatkan yang terbaik.
2. Pilar komunikasi dengan saling mengerti. Setelah memiliki pondasi yang kuat, tentunya kita harus membangun pilar-pilar penunjang yang kokoh untuk mempertahankan pernikahan tersebut yaitu KOMUNIKASI yang baik karena tanpa komunikasi yang baik, kerikil-kerikil masalah dapat melahirkan badai yang mampu mengguncangkan pernikahan yang ada.
Untuk membangun komunikasi yang baik, pasangan harus menyadari bahwa mereka merupakan dua pribadi yang unik dan berbeda. Perbedaan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jenis kelamin, tetapi juga nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, temperamen dan kepribadian. Pasangan tidak akan pernah nisa membangun sebuah kesamaan tanpa menyadari atau mengenali perbedaan yang ada. Setelah pasangan menyadari perbedaan tersebut barulah dapat ditentukan langkah penyesuaian yang tepat. Tentunya, kita tidak dapat menuntut pasangan untuk mengubah/menyesuaikan dirinya, namun mulailah dari diri kita.
3. Satu atap dalam keuangan. Masalah ekonomi atau keuangan bukanlah hal yang mudah diselesaikan dalam sebuah pernikahan, hal ini sangat tergantung pada budaya dan nilai-nilai dalam keluarga masing-masing pihak. Namun dengan prinsip "di mana hartamu, di situ hatimu" maka satu atap dalam keuangan akan sangat menjanjikan sebuah perlindungan yang baik untuk sebuah pernikahan. Tentunya dengan adanya satu kesatuan dalam keuangan akan memperkecil keinginan untuk bercerai pada suami isteri karena mereka harus memikirkan dua kali lebih panjang untuk mampu memisahkan harta ‘gono-gininya' ketika mereka berkeinginan untuk bercerai.
Love is giving the best (cinta adalah memberi yang terbaik)
(Family DISCovery)
Komunikasi adalah elemen yang paling penting dalam suatu hubungan, sementara pertengkaran adalah elemen yang paling merusak (John Gray, Phd.)
B. Merawat dan Memperkaya Cinta Suami Isteri
Pernikahan yang sukses merupakan usaha dan hasil kerjasama dari dua orang yang berusaha merawat cinta
Cinta
Beberapa ahli psikologi meyakini bahwa cinta merupakan emosi paling utama yang mendasari berbagai nuansa emosi lainnya. Ada berbagai definisi atau pengertian yang bisa dikemukakan apabila pada seseorang ditanyakan apa arti cinta. Ada pula berbagai bentuk dan manifestasi cinta. Konsep tradisional dari cinta dikemukakan oleh filosof Irving Singer dengan 4 macam cinta yaitu eros (cinta keindahan yang sifatnya fisik), philia (cinta pertemanan), nomos (submisif & kepatuhan) dan agape (cinta spiritual, tidak mementingkan diri sendiri).
Suami istri mencintai pasangannya tidak selalu dengan gaya, ekspresi, ataupun porsi yang sama. Erich Fromm dalam bukunya The Art of Loving menggambarkan bahwa cinta adalah sebuah seni yang harus dipelajari, dipraktekkan dan terus diasah. Berarti cinta tidak berkembang dengan sendirinya, perlu usaha untuk memelihara dan menjaganya. Cinta membuat pasangan merasa dekat, terikat dan saling memiliki, sehingga bisa membuka diri sampai taraf yang paling intim.
Robert Sternberg, seorang psikolog dari Yale University melakukan penelitian tentang cinta romantis dan mengemukakan teori segitiga cinta yang memungkinkan dipahami adanya dinamika serta model atau kualitas cinta yang berbeda-beda, bergantung dari kombinasi ada tidaknya, ataupun besar kecilnya komponen cinta yaitu Gairah (passion), Keintiman (intimacy) dan Komitmen (commitment). Kombinasi ini bisa berbeda pada waktu yang berbeda dalam hubungan cinta yang sama.
Gairah: Komponen gairah merujuk pada romantisme dan daya tarik, merupakan getaran perasaan yang mendorong seseorang untuk bercinta, bersifat sensual dan seksual.
Komitmen: Merupakan sisi kognitif dari cinta. Terdiri dari dua bagian yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek adalah keputusan untuk mencintai seseorang (mungkin tanpa disadari). Jangka panjang adalah keputusan untuk mempertahankan dan merawat cinta dengan orang tersebut. dalam perkawinan hingga akhir hidup. Komitmen untuk mempertahankan perkawinan, memungkinkan suami istri tetap setia dan bertahan berjalan bersama serta mampu mengatasi masa-masa ketika gairah cinta mulai menurun.
Keintiman: Sisi emosional dari cinta adalah keintiman, kedekatan bukan saja secara fisik tetapi juga kedekatan hati. Kedekatan yang memungkinkan seseorang berani membuka diri, mempercayakan hal-hal pribadinya kepada orang yang dicintai. Ada perasaan percaya karena diterima apa adanya sehingga seseorang tidak merasa perlu merahasiakan sesuatu. Tanpa perawatan dan pemeliharaan yang sungguh-sungguh keintiman sulit dicapai, sebab dibutuhkan pengenalan, pemahaman, kepekaan, empati dari pasangannya untuk seseorang bisa membuka diri.
Beberapa tanda keintiman adalah :
- Senang dan ingin pasangannya juga merasa bahagia
- Merasa bahagia ketika ada bersama
- Senang berdekatan
- Mudah saling paham (hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan.
- Merasa mendapat dan suka memberi dukungan emosional dari/ ke pasangan
- Menghargai kehadiran dan keberadaan pasangan.

Ada berbagai hal yang perlu diperhatikan dalam merawat cinta suami isteri:
Menikah dengan alasan yang sehat. Ada berbagai alasan menikah, merawat cinta suami isteri perlu diawali dengan alasan yang sehat untuk menikah yaitu, merupakan ekspresi dari cinta & persahabatan keinginan untuk membangun keluarga
memenuhi kebutuhan fisik, sosial & ekonomi hidup berbagi dengan pasangan
bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan satu sama lain mengoptimalkan potensi
meningkatkan pertumbuhan rohani.
Kesetaraan otoritas
Suami istri adalah mitra, pasangan yang sepadan dalam menjalankan peran sebagai suami istri dan orang tua ataupun peran lain dalam lingkup kehidupan keluarga. Kalaupun masing-masing mempunyai kelebihan maka kelebihan tersebut dimanfaatkan untuk kepentingan berdua, saling mengisi dan mendukung keluarga.
Mengenal pasangan
Hidup bersama di bawah satu atap bukan jaminan untuk bisa mengenal dan memahami pasangan secara baik. Mungkin kita merasa mengenal pasangan dengan baik, tetapi tidak jarang ada banyak hal yang kita tidak / kurang kenal dan tidak paham mengenai pasangan kita. Dibutuhkan kemauan, usaha, saling terbuka dan komunikasi yang efektif untuk suami istri mengenal dan memahami pasangannya.
Mengenal dan memahami suami sebagai laki-laki / istri sebagai perempuan
Konflik dan ketegangan seringkali terjadi karena suami istri sering tidak saling memahami dan kurang mempertimbangkan fakta bahwa laki laki dan perempuan berbeda karakteristik dalam cara berpikir, bertindak, dan juga cara memandang lingkungannya.


Laki-laki Perempuan
Cara berpikir, bertindak, dan juga cara memandang lingkungannya:
> Mengandalkan logika
> Fokus pada prinsip utama
> Fokus pada satu hal
> Pekerjaan - bagian diri
> Cenderung stabil
Cara berpikir, bertindak, dan juga cara memandang lingkungannya:
- Mengandalkan perasaan
- Fokus pada detil
- Mengerjakan beberapa hal sekaligus
- Keluarga – bagian diri
- Mudah berubah-ubah

Hal-hal yang menjadi kebutuhan utama laki-laki dan perempuan juga berbeda:
> Seks
> Rekreasi
> Wanita yang menarik
> Dukungan keluarga
> Dikagumi – dihormati Hal-hal yang menjadi kebutuhan utama laki-laki dan perempuan juga berbeda:
- Kasih Sayang
- Komunikasi & percakapan
- Kejujuran & keterbukaan
- Dukungan keuangan
- Komitmen terhadap keluarga


Mengatasi konflik
Konflik-konflik yang terjadi dalam hubungan suami istri sebenarnya merupakan bagian dari proses harmonisasi. Tidak ada pernikahan yang bebas konflik, yang penting adalah bukan ada atau tidak adanya konflik ataupun pertengkaran yang terjadi dalam hubungan suami istri. konflik. Ada 4 cara berkonflik yang harus dihindari karena membuat hubungan menjadi buruk yaitu, mengkritik dan merendahkan, menghina, membela diri dan membisu.
Komunikasi
Komunikasi adalah penyampaian atau pertukaran informasi. Komunikasi yang berhasil adalah bila informasi yang disampaikan diterima dan memberi pengertian sebagaimana yang dimaksudkan.
C. Yang Menjaga Pernikahan Tetap Kuat
Menurut Dr. Steve Stephens, Psikolog dan pembicara seminar. Dalam 20 tahun memberikan konseling pernikahan. Alasan-alasan utama yang diberikan para pasangan suami istri, tentang mengapa pernikahan mereka langgeng:
1. Pasangan saya adalah sahabat saya yang terbaik.
2. Kami menikmati waktu bersama.
3. Saya suka kepada pasangan saya sebagai individu.
4. Pernikahan adalah komitmen seumur hidup.
5. Pasangan saya tertarik kepada saya sebagai individu.
6. Pernikahan itu sakral.
7. Kami punya impian serta sasaran yang sama.
8. Anak-anak butuh rumah tangga yang stabil.
9. Pasangan saya positif dan membangun saya.Saya ingin hubungan ini berhasil.
10. Kami saling menghargai dan menghormati.
11. Pasangan saya mendorong pertumbuhan pribadi saya.
12. Kami tertawa bersama-sama.
13. Saya Percaya kepada Pasangan saya.
14. Kehidupan seksual kami positif.
15. Kami telah membangun kehidupan bersama yang tenteram serta nyaman.
16. Pasangan saya menerima saya apa adanya.
17. Kami punya keyakinan serta minat serupa.
18. Kami berkomunikasi dengan baik.
19. Saya homat kepada pasangan saya.






















BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Perkawinan sekalipun diawali dengan cinta yang menggebu bukanlah merupakan jaminan bahwa cinta tersebut tidak akan pudar, cinta seringkali mengalami pasang surut, terlebih lagi untuk jangka panjang dan melalui berbagai pergumulan. Pernikahan yang sukses merupakan usaha dan hasil kerjasama dari dua orang yang berusaha merawat cinta mereka berdua. Adapun kesuksesan Perkawinan (Shihab dlm buku Pengantin al-Qur’an):
 Sakinah: Ketenangan dan ketentraman setelah sebelumnya ada gejolak, Ketenangan bersifat dinamis, Dilahirkan akibat menyatunya pemahaman dan kesucian hati dan bergabungnnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat.
 Mawaddah: Kelapangan dada dan kekosongan jiwa dari kehendak buruk, sehingga pintunya tertutup untuk dihinggapi keburukan lahir dan batin yang mungkin datang dari pasangannya.
 Rahmah: Kondisi psikologis yang muncul di dalam hati akibat menyaksikan ketidakberdayaan, sehingga mendorong yang bersangkutan untuk melakukan pemberdayaan.
 Amanah: Sesuatu yang diserahkan kepada pihak lain disertai dengan rasa aman dari pemberinya karena kepercayaannya bahwa apa yang diamanatkan itu akan dipelihara dengan baik, serta aman keberadaannya di tangan yang diberi amanat itu
B. Saran
Dalam menjalani kehidupan keluarga ada beragam persoalan dan berbagai alasan yang bisa menimbulkan gesekan ataupun benturan yang mudah memudarkan serta merusak cinta. Tanpa pemeliharaan yang telaten cinta suami istri mudah sirna, dan tidak lagi melatar belakangi kehidupan berdua. Jangan tunggu sampai meredup, sejak awal perkawinan, cinta perlu dirawat, dijaga agar tetap hangat, mesra, menarik dan terasa menyenangkan bagi keduanya. Keluarga yang diwarnai dengan hubungan suami istri yang penuh cinta kasih akan menciptakan suasana yang hangat dan akrab dan kasih sayang suami istri akan dirasakan serta ditularkan ke anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Memelihara, merawat cinta perlu dilakukan sejak awal perkawinan dan menjadi prioritas agar cinta suami istri dapat terus bertumbuh serta senantiasa diperkaya.


MAKALAH
PSIKOLOGI KELUARGA
MEMBANGUN KOMITMEN
{Bagaimana mempertahankan perkawinan}






Oleh :
Humaira ( 07400275)
Rizqi Fauzia
Rizqiatus S



UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
FAKULTAS HUKUM
2010

DAFTAR PUSTAKA

M. Dagun, Psikologi Keluarga, 2002, Jakarta, Rineka Citra

Prof. Dr. Ahmad Mubarok, Psikologi Keluarga: Dari Keluarga Sakinah Hingga Keluarga Bangsa, 2004, Jakarta, PT Bina Rena Pariwana

http://safruddin.wordpress.com/category/keluarga/(Sepuluh Prinsip Membangun Rumah Tanggal Januari 20, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar