TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Minggu, 02 Januari 2011

Teknologi dan Konsekuensinya bagi Hukum Islam

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) di satu sisi memang berdampak positif, yakni dapat memperbaiki kualitas hidup manusia. Berbagai sarana modern industri, komunikasi, dan transportasi, misalnya, terbukti amat bermanfaat. Dengan ditemukannya mesin jahit, dalam 1 menit bias dilakukan sekitar 7000 tusukan jarum jahit. Bandingkan kalau kita menjahit dengan tangan, hanya bisa 23 tusukan per menit (Qardhawi, 1997). Dahulu Ratu Isabella (Italia) di abad XVI perlu waktu 5 bulan dengan sarana komunikasi tradisional untuk memperoleh kabar penemuan benua Amerika oleh Columbus (?). Lalu di abad XIX Orang Eropa perlu 2 minggu untuk memperoleh berita pembunuhan Presiden Abraham Lincoln. Tapi pada 1969, dengan sarana komunikasi canggih, dunia hanya perlu waktu 1,3 detik untuk mengetahui kabar pendaratan Neil Amstrong di bulan (Winarno, 2004). Dulu orang naik haji dengan kapal laut bias memakan waktu 17-20 hari untuk sampai ke Jeddah. Sekarang dengan naik pesawat terbang, kita hanya perlu 12 jam saja. Subhanallah?
Tapi di sisi lain, tak jarang iptek berdampak negatif karena merugikan dan membahayakan kehidupan dan martabat manusia. Bom atom telah menewaskan ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Pada tahun 1995, Elizabetta, seorang bayi Italia, lahir dari rahim bibinya setelah dua tahun ibunya (bernama Luigi) meninggal. Ovum dan sperma orang tuanya yang asli, ternyata telah disimpan di ?bank? dan kemudian baru dititipkan pada bibinya, Elenna adik Luigi (Kompas, 16/01/1995). Bayi tabung di Barat bias berjalan walau pun asal usul sperma dan ovumnya bukan dari suami isteri (Hadipermono, 1995). Bioteknologi dapat digunakan untuk mengubah mikroorganisme yang sudah berbahaya, menjadi lebih berbahaya, misalnya mengubah sifat genetik virus influenza hingga mampu membunuh manusia dalam beberapa menit saja (Bakry, 1996). Kloning hewan rintisan Ian Willmut yang sukses menghasilkan domba kloning bernama Dolly, akhir-akhir ini diterapkan pada manusia (humancloning). Lingkungan hidup seperti laut, atmosfer udara, dan hutan juga tak sedikit mengalami kerusakan dan pencemaran yang sangat parah dan berbahaya.
Beberapa varian tanaman pangan hasil rekayasa genetika juga diindikasikan berbahaya bagi kesehatan manusia. Tak sedikit yang memanfaatkan teknologi internet sebagai sarana untuk melakukan kejahatan dunia maya (cyber crime) dan untuk mengakses pornografi, kekerasan, dan perjudian.
Di sinilah, peran agama sebagai pedoman hidup menjadi sangat penting untuk ditengok kembali. Dapatkah agama memberi tuntunan agar kita memperoleh dampak iptek yang positif saja, seraya mengeliminasi dampak negatifnya semiminal mungkin. Sejauh manakah agama Islam dapat berperan dalam mengendalikan perkembangan teknologi modern.

1.2 TUJUAN

• Makalah ini bertujuan menjelaskan peran Islam dalam perkembangan dan pemanfaatan teknologi tersebut.
• Memenuhi tugas guna penilaian pada kegiatan belajar-mengajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
BAB II

PEMBAHASAN

II.1.1. DEFINISI IPTEK

Sains berarti ilmu pengetahuan.Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui tangkapan pancaindra, intuisi, dan firasat.Ilmu merupakan pengetahuan yang sudah diklasifikasi, diorganisasi, disistemisasi dan diinterpretasi sehingga menghasilkan kebenaran objektif, sudah diuji kebenarannya, dan dapat diuji secara ilmiah.
Kata teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan.Dalam sudut pandang budaya, teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan.Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan netral.Dan dalam situasi tertentu teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi untuk merusak dan potensi kekuasaan.Disinilah letak perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa ketimpangan-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungannya yang berakibat kehancuran alam semesta.Netralitas teknologi dapat digunakan untuk kemanfaatan sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia dan atau digunakan untuk kehancuran manusia itu sendiri.
Islam merupakan agama yang antara wahyu dan akal sejalan, tetapi untuk agama lain antara wahyu dan akal bertentangan.Sebagai contoh:
 Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk memikirkan alam semesta (QS 3/190-192)

Artinya : “191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
dan mengambil berbagai hukum serta manfaat darinya, diantara ayat -ayat yang telah dibuktikan oleh pengetahuan modern seperti :
 Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS 41/11).

Artinya : “11. Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa." Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati."
 Ayat bahwa bintang-bintang merupakan sumber panas yang tinggi (QS 86/3), matahari sebagai contoh tingkat panasnya mencapai 6000 derajat C.

Artinya : “3. (yaitu) bintang yang cahayanya menembus,”
 Ayat bahwa planet berada pada sistem tata surya terdekat (QS 37/6).

Artinya : 6.” Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang,”
 Ayat yang membedakan antara planet sebagai pemantul cahaya (nur/kaukab) dengan matahari sebagai sumber cahaya (siraj) (QS 71/16).

Artinya : “ Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita “
 Ayat bahwa bumi ini bulat (kawwara-yukawwiru) dan melakukan rotasi (QS 39/5)

Artinya : “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.”
 Ayat tentang akan sampainya manusia (astronaut) ke ruang angkasa dengan ilmu pengetahuan (sulthan) (QS 55/33).

Artinya : “Hai jama'ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan”
 Ayat bahwa angin sebagai mediasi dalam proses penyerbukan (pollen) tumbuhan (QS 15/22).

Artinya : “Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.”
 Ayat bahwa pada tumbuhan terdapat pasangan bunga jantan (etamine) dan bunga betina (ovules) yang menghasilkan perkawinan (QS 13/3).
 Ayat tentang proses terjadinya air susu yang bermula dari makanan (farts) lalu diserap oleh darah (dam) lalu ke kelenjar air susu (QS 16/66), perlu dicatat bahwa peredaran darah baru ditemukan oleh Harvey 10 abad setelah wafatnya nabi Muhammad SAW. Ayat tentang penciptaan manusia dari air mani yang merupakan campuran (QS 76/2), mani merupakan campuran dari 4 kelenjar, testicules (membuat spermatozoid), vesicules seminates (membuat cairan yang bersama mani), prostrate (pemberi warna dan bau), Cooper & Mary (pemberi cairan yang melekat dan lendir).
 Ayat bahwa zyangote dikokohkan tempatnya dalam rahim (QS 22/5), dengan tumbuhnya villis yang seperti akar yang menempel pada rahim.
Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya melalui lembar-lembar sejarah (QS 12/111). Jika manusia masih ragu akan kebenaran wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nuh, Hud, Shalih, Fir’aun, dan sebagainya, yang kesemuanya keberadaannya dibenarkan dalam sejarah hingga saat ini.

II.1.2. SYARAT-SYARAT ILMU

Dari pengertian ilmu dan pengetahuan dapat disimpulkan bahwa ilmu lebih khusus dibandingkan dengan pengetahuan.Suatu pengetahuan dapat dikategorikan sebagai ilmu apabila memenuhi 3 unsur pokok berikut ini:
• Ontologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki object studi yang jelas.Obyek studi sebuah ilmu ada dua yaitu obyek material dan obyek formal
• Epistimologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki metode kerja suatu bidang studi yaitu metode deduksi, induksi, eduksi
• Aksiologi artinya bidang studi yang bersangkutan memiliki nilai guna atau kemanfaatanya.Bidang studi tersebut dapat menunjukan nilai-nilai teoritis,hukum-hukum, generalisasi, kecenderungan umum, konsep-konsep dan kesimpulan-kesimpulan logis, sistematis, dan koheren.Dalam teori dan konsep tersebut tidak terdapat kerancuan atau kesemerawutan pikiran, atau penentangan kontradiktif diantara satu sama lain.
Sehingga ilmu pengetahuan atau sains didefinisikan sebagai himpunan pengetahuan manusia yang dikumpulkan melalui proses pengkajian dan dapat diterima oleh ratio atau nalar (pengetahuan sistematis).

II.1.3. ALQUR’AN SEBAGAI SUMBER ILMU PENGETAHUAN DAN PEDOMAN

Inilah peran pertama yang dimainkan Islam dalam iptek, yaitu aqidah Islam harus dijadikan basis segala konsep dan aplikasi iptek. Inilah paradigma Islam sebagaimana yang telah dibawa oleh Rasulullah SAW.Paradigma Islam inilah yang seharusnya diadopsi oleh kaum muslimin saat ini. Bukan paradigma sekuler seperti yang ada sekarang. Diakui atau tidak, kini umat Islam telah telah terjerumus dalam sikap membebek dan mengekor Barat dala segala-galanya; dalam pandangan hidup, gaya hidup, termasuk dalam konsep ilmu pengetahuan. Bercokolnya paradigma sekuler inilah yang bisa menjelaskan, mengapa di dalam sistem pendidikan yang diikuti orang Islam, diajarkan system ekonomi kapitalis yang pragmatis serta tidak kenal halal haram. Eksistensi paradigma sekuler itu menjelaskan pula mengapa tetap diajarkan konsep pengetahuan yang bertentangan dengan keyakinan dan keimanan muslim. Misalnya Teori Darwin yang dusta dan sekaligus bertolak belakang dengan Aqidah Islam.
Kekeliruan paradigmatis ini harus dikoreksi. Ini tentu perlu perubahan fundamental dan perombakan total. Dengan cara mengganti paradigma sekuler yang ada saat ini, dengan paradigma Islam yang memandang bahwa Aqidah Islam (bukan paham sekularisme) yang seharusnya dijadikan basis bagi bangunan ilmu
pengetahuan manusia.
Namun di sini perlu dipahami dengan seksama, bahwa ketika Aqidah Islam dijadikan landasan iptek, bukan berarti konsep-konsep iptek harus bersumber dari Al-Qur`an dan Al-Hadits, tapi maksudnya adalah konsep iptek harus distandardisasi benar salahnya dengan tolok ukur Al-Qur`an dan Al-Hadits dan tidak boleh bertentangan dengan keduanya (Al-Baghdadi, 1996:12).
Jika kita menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek, bukan berarti bahwa ilmu astronomi, geologi, agronomi, dan seterusnya, harus didasarkan pada ayat tertentu, atau hadis tertentu. Kalau pun ada ayat atau hadis yang cocok dengan fakta sains, itu adalah bukti keluasan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu (lihat QS An-Nisaa` [4] :126 dan QS Ath-Thalaq [65] :12), bukan berarti konsep iptek harus bersumber pada ayat atau hadis tertentu. Misalnya saja dalam astronomi ada ayat yang menjelaskan bahwa matahari sebagai pancaran cahaya dan panas (QS Nuh [71] : 16), bahwa langit (bahan alam semesta) berasal dari asap (gas) sedangkan galaksi-galaksi tercipta dari kondensasi (pemekatan) gas tersebut (QS Fushshilat [41] : 11-12), dan seterusnya. Ada sekitar 750 ayat dalam Al-Qur`an yang semacam ini (Lihat Al-Baghdadi, 2005:113).
Ayat-ayat ini menunjukkan betapa luasnya ilmu Allah sehingga meliputi segala sesuatu, dan menjadi tolok ukur kesimpulan iptek, bukan berarti bahwa konsep iptek wajib didasarkan pada ayat-ayat tertentu.
Jadi, yang dimaksud menjadikan Aqidah Islam sebagai landasan iptek bukanlah bahwa konsep iptek wajib bersumber kepada Al-Qur`an dan Al-Hadits, tapi yang dimaksud, bahwa iptek wajib berstandar pada Al-Qur`an dan Al-Hadits. Ringkasnya, Al-Qur`an dan Al-Hadits adalah standar (miqyas) iptek, dan bukannya sumber (mashdar) iptek. Artinya, apa pun konsep iptek yang dikembangkan, harus sesuai dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits, dan tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits itu. Jika suatu konsep iptek bertentangan dengan Al-Qur`an dan Al-Hadits, maka konsep itu berarti harus ditolak.

II.2. INTEGRASI IMAN, ILMU, dan AMAL

Dalam pandangan islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terintegrasi ke dalam suatu sistem yang disebut dinul islam.Didalamnya ada 3 unsur pokok, iman, ilmu dan amal sholeh.
Islam adalah agama yang sempurna, dimana terdapat iman, islam, dan ikhsan, dalam Qs ibrahim 24-25 dinyatakan:

Artinya : “24. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik[786] seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, 25. pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”
Ayat diatas menggambarkan keutuhan iman, ilmu dan amal.Hal ini digambarkan sebagai sebuah pohon yang akarnya menghujam kuat ke bumi, batang menjulang tinggi, dan mengeluarkan buah di tiap musimnya atas izin Allah.Disini Allah mengumpamakan iman sebagai akar, ilmu bagai batang pohon yang akhirnya menghasilkan akhlak yang diumpamakan sebagai buah.

II.3. KEUTAMAAN ORANG BERIMAN DAN BERAMAL

Perbuatan baik seseorang tidak akan bernilai amal saleh apabila perbuatan tersebut tidak dibangun diatas nilai-nilai iman dan ilmu yang benar.Sama halnya pengembangan ipteks yang lepas dari keimanan dan ketakwaan tidak akan bernilai ibadah serta tidak akan menghasilkan kemaslahatan bagi umat manusia dan alam lingkungannya bahkan akan menjadi malapetaka bagi kehidupannya sendiri.
Manusia sebagai makhluk paling sempurna yang diciptakan Allah,yaitu diciptakan dengan akal.Akal berfungsi untuk berfikir yang akhirnya menghasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Ilmu yang dikembangkan atas dasar keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT akan memberikan jaminan kemaslahatan bagi kehidupan umat manusia termasuk bagi lingkungannya.Allah berjanji dalam Qs Al Mujadilah 11:

Artinya : “11. Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”
Menurut al Ghozali, sesuatu yang paling mulia pada diri manusia adalah hatinya.Tugas utama pendidik adalah menyempurnakan, membersihkan, dan mengiring peserta didik agar hatinya selalu dekat dengan Allah melalui pengembangan ilmu pengetahuan.Dan kegiatan pembelajaran adalah kegiatan yang sangat mulia yang dapat menentukan masa depan seseorang.Bahkan dalam bagian awal kitab ihya ulumudin karangan Al ghozali, dimulai dengan pembahasan ilmu, pembelajaran dan keutamaannya.Al Ghozali mengatakan bahwa makhluk yang mulia dimuka bumi ini adalah manusia,sedangkan bagian tubuh manusia yang paling mulia adalah hatinya.Guru sibuk menyempurnakan, mengagungkan, menyucikannya serta menuntunnya agar selalu dekat kepada Allah SWT.Oleh karena itu, mengajarkan ilmu termasuk dihitung sebagai ibadah pada Allah.Sampai-sampai tidurnya orang 'alim lebih baik dari ibadahnya orang bodoh.

II.4. TANGGUNG JAWAB ILMUWAN TERHADAP ALAM DAN LINGKUNGAN

Ada fungsi utama manusia di dunia, yaitu 'abdun' dan khalifah Allah dibumi.Esensi dari 'abdun' adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan kepada kebenaran dan keadilan Allah, sedangkan esensi khalifah adalah tanggung jawab terhadap diri sendiri dan alam lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam.
Dalam kontek 'abdun', manusia menempati posisi sebagai ciptaan Allah.Posisi ini memiliki konsekuensi adanya keharusan manusia untuk taat dan patuh terhadap penciptanya.Keengganan manusia menghambakan diri kepada Allah sebagai pencipta akan menghilangkan rasa syukur atas anugerah yang diberikan Sang Pencipta berupa potensi yang sempurna yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya yaitu potensi akal.Dengan hilangnya rasa syukur mengakibatkan ia menghambakan diri kepada selain Allah termasuk menghambakan diri kepada selain Allah termasuk menghambakan diri kepada hawa nafsunya. Keikhlasan manusia menghambakan dirinya kepada Allah akan mencegah penghambaan manusia kepada sesama manusia termasuk pada dirinya.
Manusia diciptakan Allah dengan dua kecenderungan yaitu kecenderungan kepada ketakwaan dan kecenderungan kepada dan kecenderungan kepada perbuatan fasik.Sebagaimana firman Allah, faalhamaha fujuroha watakwaha.Artinya "maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia kefasikan dan ketakwaan".Dengan kedua kecenderungan tersebut Allah berikan petunjuk berupa agama sebagai alat manusia untuk mengarahkan potensinya kepada keimanan dan ketakwaan bukan pada kejahatan yang selalu didorong oleh nafsu amarah. Untuk itu Allah berfirman "wahadainahu najdaini"."Aku tunjukan kamu dua jalan".Akal memiliki kemampuan untuk memilih salah satu yang terbaik bagi dirinya.
Fungsi yang kedua sebagai Khalifah Allah di bumi, ia punya tanggung jawab untuk menjaga alam.Manusia diberikan kebebasan untuk memanfaatkan sumberdaya.Oleh karena itu perlu adanya ilmu dalam memanfaatkan sumberdaya agar tetap terdapat keseimbangan dalam alam.
Kerusakan alam lebih banyak disebabkan karena ulah manusia sendiri.Sebagaimana firman Allah dalam Qs.Arrum 41.

Artinya: “41. Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Untuk melaksanakan tanggung jawabnya, manusia diberikan keistimewaan berupa kebebasan untuk berkreasi sekaligus menghadapkan dengan tuntutan kodratnya sebagai makhluk psikofisik.Namun ia harus sadar akan keterbatasannya yang menuntut ketaatan dan ketundukan terhadap aturan Allah, baik dalam konteks ketaatan terhadap perintah beribadah secara langsung (fungsi sebagai abdun) maupun konteks ketaatan terhadap sunatullah (fungsi sebagai khalifah).Perpaduan antara tugas ibadah dan khalifah inilah yang akan mewujudkan manusia yang ideal yakni manusia yang selamat dunia akherat
Setelah kita mengetahui betapa tinggi perhatian Islam terhadap ilmu pengetahuan dan betapa Allah SWT mewajibkan kepada kaum muslimin untuk belajar dan terus belajar, maka Islampun telah mengatur dan menggariskan kepada ummatnya agar mereka menjadi ummat yang terbaik (dalam ilmu pengetahuan dan dalam segala hal) dan agar mereka tidak salah dan tersesat, dengan memberikan bingkai sumber pengetahuan berdasarkan urutan kebenarannya sebagai berikut : Al-Qur’an dan as-Sunnah : Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan keduanya adalah langsung dari sisi Allah SWT dan dalam pengawasannya, sehingga terjaga dari kesalahan, dan terbebas dari segala vested interest apapun, karena ia diturunkan dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Adil. Sehingga tentang kewajiban mengambil ilmu dari keduanya, disampaikan Allah SWT melalui berbagai perintah untuk memikirkan ayat-ayat NYA dan menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal.
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Islam merupakan agama yang antara wahyu dan akal sejalan.Di sinilah, peran Islam menjadi sangat penting agar IPTEK dalam perkembangannya tetap sesuai dengan Al Quran dan Hadits sehingga dalam kehidupan, IPTEK tidak disalahgunakan.

DAFTAR PUSTAKA

• Mansoer Hamdan, Materi Instruksional Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Umum, Jakarta : DIKTI, 2004
• Anonim, Al Qur’an dan Iptek, blogspot : Al-Ikhwan.net, 2008
• Anonim, Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Islam, blogspot : Al-Ikhwan.net, 2008
LAMPIRAN
A. DAFTAR PERTANYAAN DISKUSI
1. Bagaimana menurut kelompok anda tentang masalah pengkloningan manusia ?
2. Bagaimana menurut kelompok anda tentang masalah pembuatan senjata perang ?
3. Dalam salah satu hadits Rosulallah yang diriwayatkan oleh Bukhori, disebutkan bahwa penyakit tidak menular (misalnya kudis), padahal dalam ilmu kedokteran kudis merupakan penyakit menular, apa maksud hadits tersebut ?
B. JAWABAN
1. Pengkloningan merupakan sebuah cara untuk memperbanyak diri, sel induk sama dengan sel anak.Contohnya pada tumbuhan (cultur jaringan), hewan (berhasil pada uji coba domba), dan pada organ manusia. Tetapi untuk pengkloningan manusia secara utuh, Islam tidak memperbolehkan karena hal ini akan berbenturan dengan norma hukum Islam.Contohnya memperbanyak wanita cantik sehingga banyak laki-laki yang tergoda sehingga harkat manusia hamper tidak berharga.
2. Boleh asal tidak digunakan dengan cara yang salah, karena bagaimanapun awal dari sebuah teknologi adalah penemuan, contohnya saja reactor nuklir merupakan pengembangan dari bom nuklir.
3. Wallahu a’lam, karena Rosul merupakan sosok yang sangat dekat dengan Allah, maka perkataanya tidak bisa diragukan.Mungkin penyakit tersebut dulunya memang tidak menular dan sekarang berevolusi atau mungkin memang Allah menciptakan sebuah ketidakbiasaan.Pada intinya penjelasan Allah (ilmu yang diterangkan Allah ) adalah benar, tapi masalahny apakah manusia ini dapat menjangkau ilmu tersebut atau tidak.Contohnya teorema bahwa bumi bulat yang pada saat Rosulallah belum terungkap, padahal dalam Al Qur’an sudah diterangkan.

MAKALAH
Fiqih Mu’ashirah
“Teknologi dan Konsekuensinya bagi Hukum Islam”

Makalah ini dibuat
untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Fiqih Mu’ashirah





Oleh
Siti Nafi’ah : 07120015
Hoiriyah : 07120023


JURUSAN SYARI’AH TWINING PROGRAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar