TRANSLATE THIS BLOG

Translate this page from Indonesian to the following language!

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Widget edited by Anang

Sabtu, 30 April 2011

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam Dengan Modern

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam Dengan Modern  

Ilmu ekonomi Islam merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang dilhami oleh nilai-nilai Islam. Sejauh mengenai masalah pokok kekurangan, hampir tidak terdapat perbedaan apapun antara ilmu ekonomi Islam dan ilmu ekonomi modern.
Andaipun ada perbedaan itu terletak pada sifat dan volumenya (M. Abdul Mannan; 1993). Itulah sebabnya mengapa perbedaan pokok antara kedua sistem ilmu ekonomi dapat dikemukakan dengan memperhatikan penanganan masalah pilihan.

Dalam ilmu ekonomi modern masalah pilihan ini sangat tergantung pada macam-macam tingkah masing-masing individu. Mereka mungkin atau mungkin juga tidak memperhitungkan persyaratan-persyaratan masyarakat. Namun dalam ilmu ekonomi Islam, kita tidaklah berada dalam kedudukan untuk mendistribusikan sumber-sumber semau kita. Dalam hal ini ada pembatasan yang serius berdasarkan ketetapan kitab Suci Al-Qur`an dan Sunnah atas tenaga individu. Dalam Islam, kesejahteraan sosial dapat dimaksimalkan jika sumber daya ekonomi juga dialokasikan sedemikian rupa, sehingga dengan pengaturan kembali keadaannya, tidak seorang pun lebih baik dengan menjadikan orang lain lebih buruk di dalam kerangka Al-Qur`an atau Sunnah.

Suka atau tidak, ilmu ekonomi Islam tidak dapat berdiri netral di antara tujuan yang berbeda-beda. Kegiatan membuat dan menjual minuman alkohol dapat merupakan aktivitas yang baik dalam sistem ekonomi modern. Namun hal ini tidak dimungkinkan dalam negara Islam. Lahirnya ekonomi Islam di zaman modern ini cukup unik dalam sejarah perkembangan ekonomi. Ekonomi Islam, berbeda dengan ekonomi-ekonomi yang lain, lahir karena dua faktor. Pertama, berasal dari ajaran agama yang melarang riba dan menganjurkan sadaqah. Kedua, timbulnya surplus dan yang disebut petro-dollar dari negara-negara penghasil dan pengekspor minyak dari Timur Tengah dan negara-negara Islam. Adalah suatu kebetulan, bahwa lading-ladang minyak terbesar di dunia dewasa ini berada di negara-negara Muslim.

Perbedaan Sistem Ekonomi Islam dengan Modern adalah
 
 Berdasarkan Sumber (Epistemology) 
 
Umat Islam berpedoman  kepada dua sumber hukum yang mutlak, yaitu: Al-Qur`an dan al-Sunnah (hadits). Sehingga menjadikan Islam sebagai agama yang istimewa dan sempurna. Begitupun dalam urusan muamalah (ekonomi) Islam pun mengaturnya dengan sangat indah. Perintah seperti makan dan minum menjelaskan tentang tuntutan keperluan asasi manusia, Penjelasan Allah s.w.t tentang kejadianNya untuk dimanfaatkan oleh manusia.
 
Sebagaimana firman Allah SWT. dalam beberapa  suratnya, "Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? (QS. Yasin ayat 34-35. 72-73).   
 
Di dalam surat lain, Allah SWT. menjelaskan bahwa alam ini disediakan untuk dibangunkan oleh manusia sebagai Khalifah Allah. "Dan Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah ayat 30). 
 
Allah SWT juga melarang perbuatan riba, judi, perdagangan babi, dan arak. Sebagaimana firman-Nya: "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Baqarah ayat 275).
 
Ekonomi Islam berlandaskan wahyu Allah. Sedangkan ekonomi modern adalah hasil pemikiran manusia. Oleh karena itu, meskipun ilmunya sama yaitu: ilmu ekonomi namun sumbernya berbeda. Selain itu, para pakar ekonomi Islam di dalam menyelesaikan masalah ekonomi yang dihadapinya selalu dikaitkan dengan Allah dan mempertibangkan kesalamatan di dunia dan akhirat. Jauh beda dengan para pakar ekonomi modern yang hanya mempertimbangkan keuntungan duniawi saja.
 
 

Demi Kemashalatan Manusia Itu Sendiri

Ekonomi Islam meletakkan manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini di mana segala bahan-bahan yang ada di bumi dan di langit adalah dipermudahkan untuk manusia.

Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (nya), dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. (QS. Al-Nahl ayat 12 - 13)

Kesemuanya adalah bertujuan untuk beribadat kepada Allah S.W.T sama ada berkaitan dengan soal ibadat yang khusus atau ibadat yang umum.Manusia merupakan makhluk yang tidak boleh bersendirian. Oleh itu dalam soal pemilikan harta terdapat harta milik individu dan juga terdapat hak-hak harta yang menjadi hak masyarakat umum. Oleh itu sebarang pencabulan atau pencerobohan kepada hak milik orang lain adalah suatu kesalahan.

Harta Hanya Titipan Allah

Harta bukanlah tujuan sebenarnya dalam kehidupan manusia tetapi hanya sebagai jalan (sarana) menggapai ridho ilahi apabila dipergunakan sebaik-baiknya guna mencapai nikmat ketenangan kehidupan di dunia dan sebagai bekal nanti di akhirat. Sebagaimana firman Allah SWT, Katakanlah: "Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (QS. Al-An'am ayat 162)

Apabila manusia dapat merealisasikan perintah Allah tersebut, maka dapat dipastikan bahwa manusia akan dapat mencapai ketenangan hidup yang hakiki. Apabila setiap Muslim yakin sepenuh hati kepada Allah SWT., bahwa hanya Dia yang mampu memberikan ketenangan hakiki bukannya harta.Jauh berbeda dengan sistem ekonomi modern dimana meletakkan kepentingan dunia di atas segala-galanya.

Sistem ekonomi modern fokus kepada untung tanpa mempertimbangkan nilai-nilai ketauhidan, dan hanya mengutamakan kepentingan individu atau golongannya serta menganut sistem survival of the fittest (siapa kuat dialah yang berkuasa). Ekonomi modern mengandung unsur riba, dan sudah dipraktekan sejak dulu. Sistem riba yang memberanguskan pertumbuhan ekonomi manusia. Riba diibaratkan sebagai lintah.

Agama Islam  juga menganjurkan manusia untuk memperoleh keuntungan dengan cara sistem jual beli dan mudharabah. Jelas sekali perbedaan antara riba dan jual beli. Jual beli dihalalkan di dalam Islam. Sebab berlandaskan saling ridha kedua belah pihak (red, penjual dan pembeli), setelah terjadi transaksi yang menguntungkan ke dua belah pihak tersebut.

Sistem ekonomi Islam atau dikenali sebagai muamalah adalah suatu sistem lengkap sebab berdasarkan wahyu yang jelas dari Yang Maha Berkuasa yaitu Allah SWT. Sementara sistem ekonomi yang dikembangkan dunia barat mengabaikan aspek yang paling penting yaitu manusianya sendiri. Sedangkan sistem ekonomi Islam sangat peduli pada faktor manusia ini. Karena roda perekonomian tidak akan berjalan tanpa peranan penting manusia di dalamnya, tentunya pula ikhtiar manusia ini selalu di kaitkan dengan pertolongan Allah SWT.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar